Senin, 04 Maret 2013

TEXT RESPONSES DUA


           
3rd Assignment

From: Mr L

            Pada tugas kali ini, Mr L meminta saya untuk merespon dua teks sekaligus.  Teks yang pertama berjudul “Menggagas Renaisans Budaya Sunda” dan selanjutnya teks yang kedua berjudul “Sekali Lagi Renaisans Budaya Sunda”.   Berhubung kedua teks tersebut isi teksnya saling berkaitan erat, maka dari itu, dalam teks respon saya kali ini, saya ingin menjadikan kedua teks tersebut dalam satu judul.  Berikut ini adalah teks respon saya mengenai kedua teks tersebut.

BAHASA SUNDA SIRNA DIMAKAN MODERENISASI ZAMAN

            Selepas saya membaca kedua teks tulisan Pak Haidar itu, secara keseluruhan saya sependapat dengan beliau.  Saya kira, saya tak menemukan sedikit pun kekurangan pada teks Pak Haidar kali ini.  Selanjutnya mari kita respon tulisan Pak Haidar yang luar biasa menarik ini.

            Mengacu pada judul teks respon yang telah saya tulis, lalu mengapakah bahasa Sunda berangsur-angsur sirna dimakan moderenisasi zaman?  Seperti kita ketahui sebelumnya bahwa bahasa Sunda pada sejarah peradaban perkembangan budaya di Indonesia lebih dulu ada sebelum bahasa Indonesia.  Lantas mengapa bahasa Sunda berangsur-angsur sirna seiring dengan moderenisasi zaman?  Mari kita telusuri apa menyebabkan hal tersebut terjadi, dengan mengacu pada buku yang ditulis Pak Haidar yang berjudul “Pokoknya Sunda”.

            Pada buku Pak haidar ini, dipaparkan secara kritis faktor-faktor yang menyebabkan sirnanya bahasa Sunda akibat kemunculan moderenisasi zaman.  Berikut ini adalah isinya, kurang lebih seperti ini argumen-argumen beliau:

“Menggagas Renaisans Budaya Sunda”

            Sejalan dengan terus berkembangnya evolusi budaya, dimulai dengan budaya lisan, budaya tulisan, dan budaya elektronik.  Ketiga sistem budaya tersebut tidak berpengaruh pada perkembangan bahasa Sunda di Indonesia.  Kemunculan web-site www.sunda.net.com sebagai salah satu penggunaan efek budaya elektronik ini pun sama sekali tidak membuahkan hasil yang diharapkan, padahal tujuan dari dikeluarkannya web-site tersebut diharapkan agar dapat menumbuhkan rasa memiliki bahasa Sunda pada pembacanya, khususnya bagi orang Indonesia tentunya.

“Jurus Renainsans Ki Sunda”

            Setelah kemunculan “Menggagas renaisans budaya Sunda” ini tidak membuahkan hasil yang signifikan pada peradaban perkembangan bahasa Sunda, kemudian hadir upaya berikutnya demi tercapainya tujuan yang diinginkan.  Upaya tersebut berupa “Jurus Renaisans Ki Sunda”.  Dengan hadirnya upaya tersebut diharapkan apa yang menjadi tujuan akan segera terwujud.

            Terkait dengan pembicaraan di atas, hadir lah sebuah pertanyaan pada upaya kali ini. Pertanyaan tersebut adalah: Apakah cukup hanya sampai dokumentasi?  Apakah dokumentasi seperti karya besar Ensiklopedia Sunda identik dengan bangkitnya budaya Sunda?  Saya sependapat dengan Pak Haidar, bahwa upaya berupa pendokumentasian saja belum cukup untuk kita agar dapat melestarikan bahasa Sunda.

            Selanjutnya Pak Haidar memaparkan upayanya agar bahasa Sunda tak kalah populernya dengan bahasa Indonesia.  Isi dari inti upaya beliau tersebut adalah sebagai berikut:

1.   Kita mesti bercermin pada negara-negara maju di dunia, karena mereka telah dapat melewati fase budaya lisan, budaya tulisan, dan budaya elektronik.  Mereka dapat melewati semua fase tersebut dan alhasil bahasa mereka pun takkan pernah sirna, meskipun telah hadir moderenisasi zaman.

2.  Kita mesti bercermin pada bahasa Inggris, bahasa itu mendunia bukan karena bahasanya itu sendiri, melainkan karena kualitas penutur aslinya yang sangat literate (baca-tulis), unggul teknologi, dan toleran.

            Saya sependapat dengan Pak Haidar, bahwa kita mesti mencontoh negara-negara maju. Saya percaya bila kita fokus mencontoh apa yang telah dilakukan oleh negara maju, pasti tak lama kemudian kita pun akan mampu melestarikan bahasa Sunda.  kita mesti menyadari bahwa segala usaha kita dalam memajukan segala aspek apapun sangat tertinggal jauh dari negara-negara maju.  Kita pun tak perlu larut berkecil hati terlalu lama.  Kesempatan untuk memperbaiki itu selalu ada, yang terpenting ialah, kita mesti banyak belajar dari kesalahan, dengan tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.

            Salah satu dari upaya selanjutnya agar dapat memajukan bahasa Sunda menurut saya ialah  kita mesti membebaskan anak bangsa untuk berkarya dalam hal apapun.  Biarkanlah kreativitas-kreativitas mereka mengalir secara alami tanpa kita batasi.  Selagi mereka masih dalam usaha memajukan bangsa dengan karya-karya mereka.   Tentu saja itu sama sekali bukanlah suatu masalah apabila kita membebaskan mereka dalam berkarya.   Seperti kita ketahui pada zaman sekarang ini, negara tercinta kita ini kurang dapat menghargai karya-karya anak bangsa.  Tak sepatutnya kita berlaku seperti itu, meskinya negara ini mesti menghargai sekecil apapun karya anak bangsa, karena merekalah aset berharga kita di kemudian hari.  Di tangan merekalah bergantung nasib negara Indonesia pada zaman selanjutnya.  Saya kira cukup membahas hal tersebut, selanjutnya mari kita kembali lagi pada pokok bahasan kita.

“Kita harus segera meningkatkan vitalitas bahasa Sunda, khususnya bahasa tulis, bukan hanya sekedar dalam genre sastra, agama, kebudayaan, dan obrolan sehari-hari, melainkan juga dalam wacana akademik.  Sanggupkah kita menulis buku filsafat, politik, dan teknologi dalam bahasa Sunda?”

            Saya sependapat dengan beliau, bahwa pada intinya bahasa ialah must be practice all the times and make it as your habitual.  Kemudian kita pun mesti bersatu agar dapat melestarikan bahasa Sunda.

            Dalam wacana ini selanjutnya Pak Haidar membahas tentang bagaimana bahasa Sunda dapat berkembang, sementara para pakar dan spesialis dalam forum resmi beralih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing.  Sebenarnya apa yang menyebabkan mereka seperti itu.  Bagaimana bahasa Sunda dapat berkembang, sementara para pakar bahasa Sunda saja tak mampu menggunakan bahasa Sunda dalam kegiatan apapun.  Miris sekali saya ketika membaca wacana bagian ini.  Setelah itu Pak Haidar memaparkan dua kemungkinan mengapa mereka beralih menggunakan bahasa lain dalam forum resmi:

1.    Mereka tidak mampu berkomunikasi secara professional dalam bahasa Sunda

2.   Bahasa Sunda tidak memiliki kekayaan kosakata yang memadai untuk menggambarkan konsep-konsep keilmuan.

            Kita mesti berbenah, dan introspeksi secara menyeluruh.  Kata Pak Haidar, kelemahan ini bukanlah suatu kelemahan yang inheren pada bahasa Sunda, melainkan lebih banyak merupakan kelemahan penuturnya akibat hilangnya pemberdayaan bahasa sunda dan sikap keliru terhadap bahasa.  Tampaknya ada kekeliruan langkah para pendahulu kita dalam politik bahasa daerah.  Kita pun tak perlu menyalahkan siapa-siapa, karena menurut saya semuanya memang salah, dari mulai para pakarnya, masyaraktnya, dll. Mereka tak pernah serius dalam setiap upayanya agar bahasa Sunda dapat sepopuler bahasa Indonesia.

            Nasi sudah menjadi bubur.  Menyesali sebagaimanapun tak ada gunanya, yang perlu kita pikirkan selanjutnya ialah bagaimana memperbaiki kesalahan yang lalu-lalu.  Kemudian  dalam menyikapi kelemahan-kelemahan yang terdapat pada “Jurus Renaisans Ki Sunda”, Pak Haidar mengeluarkan jurus selanjutnya, yaitu:

“Sekali Lagi, Renaisans Budaya Sunda”

            Dalam wacana ini pada intinya kita mesti sekali lagi mengadakan renaisans budaya Sunda, agar kita tidak lagi gagal dalam memajukan bahasa Sunda seperti jurus sebelumnya. Berikut ini adalah isi dari wacana Pak Haidar kali ini yang kemudian saya rangkum:

1.   Dalam menghindari konflik orang Sunda cenderung mengalah sekalipun di kandang sendiri?  Bukankah mayoritas anggota DPRD Jabar adalah non-Sunda?  Ini merupakan suatu bukti nyata bahwa masyarakatnya sendiri pun acuh terhadap bahasa Sunda, sehingga wajar saja bila mereka para birokrat kurang hirau dalam memperjuangkan agenda-agenda kebudayaan.  Belum lagi soal eksplorasi kekayaan alam.

2.   Banyak orang menunjukkan antipati terhadap pelajaran bahasa Sunda karena aspek guru, bukan aspek bahasa.  Saya sependapat pada kalimat tersebut.  Dapat kita lihat dalam contoh realnya bahwa gurunya saja belum begitu mahir menggunakan bahasa ini, lantas bagaimana orang awam yang mengikuti pelajaran di sekolah ketika mereka mendapati guru yang seperti itu.  Belum lagi kota Bandung pun tak pernah serius dalam melestarikan bahasanya.  Begini contohnya. Adakahah PT di Bandung yang membuka jurusan bahasa Sunda?  Saya rasa jumlahnya pun masih dapat dihitung jari.  Kita mesti menyadari bahwa bagaimana bahasa ini dapat berkembang, sementara guru dan para birokratnya saja tak mahir menggunakan bahasa ini.

3.   Selanjutnya perlu diingat pula bahwa sedikit sekali persentase orang Sunda yang bermukim di kota-kota, kabupaten, atau provinsi tempat terjadinya kontak bahasa. Menanggapi hal tersebut bahwa bagaimana bahasa Sunda dapat kita promosikan ke seluruh Indonesia, sementara sedikit sekali orang Sunda yang bermukim di tempat terjadinya kontak bahasa.

4.   Ciri manusia berperadaban tinggi adalah hidupnya wacana tulis, mengapa demikian?

            Begini kronologisnya:

            Allah SWT mengutus Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad berupa wahyu yang pertama, yaitu Iqra, Bacalah!  Kemudian setelah Nabi Muhammad menerima wahyu yang berangsur-angsur disampaikan oleh Allah SWT padanya, setelah itu Nabi Muhammad menulis secara bertahap  wahyu-wahyu tersebut, dan selanjutnya membukukannya, sehingga wahyu-wahyu tersebut berwujud menjadi sebuah kitab suci yang keabadiannya dijamin sampai dengan akhir zaman.  Inilah bukti penghormatan Allah dalam mengabadikan Al-Quran serta Agama Islam sampai akhir zaman.

“Membangun budaya adalah membangun pendidikan. Dan ruh pendidikan adalah baca tulis”

            Islam menyampaikan dakwahnya dengan cara baca-tulis dari zaman ke zaman. Dengan metode tersebut Islam mampu menjamin keabadinnya sampai akhir zaman.  Orang-orang eropa pun banyak yang meniru metode ini.  Kita pun mesti meniru metode tersebut, kita tidak boleh kalah dengan bangsa eropa.  Perlu diingat sekali lagi, bahwa Allah SWT mengajarkan moderenisasi, pengetahuan, dll memang lewat tulisan.

5.  Kita jangan mencontoh sifat tokoh Sunda, seperti Si Kabayan dan Si Cepot.  Seperti kita ketahui sebelumnya bahwa sifat mereka identik dengan, tidak serius, santai, dan mengundang tawa.  Ketiga sifat tersebut adalah sifat yang tidak patut dicontoh.

6.  Kelumpuhan bahasa Sunda terjadi karena kesalahan para pendahulu republik ini yang meminggirkan bahasa daerah, sastra, dan budaya pada umumnya.

            Kesimpulannya, jangan menyalahkan siapa pun atas apa yang sudah terjadi saat ini.  Kita mesti bersatu demi mewujudkan tujuan kita bersama, yaitu melestarikan bahasa Sunda seperti halnya Agama Islam dapat tetap ada hingga zaman moderenisasi saat ini. Dalam meningkatkan vitalitas bahasa Sunda bukanlah suatu hal yang mudah.  Diperlukan waktu yang cukup lama untuk sosialisasi dan realisasi gagasan ini.  Kita mesti banyak mengacu pada tulisan Pak haidar ini.  Kita tidak boleh mengulangi kesalahan kita untuk kedua kalinya.  Semoga dengan jurus terakhir Pak Haidar ini yang berjudul “Sekali Lagi, Renaisans Budaya Sunda” dapat banyak berpengaruh dalam melestarikan bahasa Sunda, sehingga bahasa yang kita cintai bersama ini takkan pernah sirna dimakan moderenisasi zaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar