From: Mr L
Pada tugas kali ini, Mr L meminta saya untuk merespon
dua teks sekaligus. Teks yang pertama
berjudul “Menggagas Renaisans Budaya Sunda” dan selanjutnya teks yang kedua
berjudul “Sekali Lagi Renaisans Budaya Sunda”.
Berhubung kedua teks tersebut isi teksnya saling berkaitan erat, maka
dari itu, dalam teks respon saya kali ini, saya ingin menjadikan kedua teks
tersebut dalam satu judul. Berikut ini
adalah teks respon saya mengenai kedua teks tersebut.
BAHASA SUNDA SIRNA
DIMAKAN MODERENISASI ZAMAN
Selepas saya membaca kedua teks tulisan Pak Haidar itu,
secara keseluruhan saya sependapat dengan beliau. Saya kira, saya tak menemukan sedikit pun
kekurangan pada teks Pak Haidar kali ini.
Selanjutnya mari kita respon tulisan Pak Haidar yang luar biasa menarik
ini.
Mengacu pada judul teks respon yang telah saya tulis,
lalu mengapakah bahasa Sunda berangsur-angsur sirna dimakan moderenisasi
zaman? Seperti kita ketahui sebelumnya
bahwa bahasa Sunda pada sejarah peradaban perkembangan budaya di Indonesia lebih
dulu ada sebelum bahasa Indonesia.
Lantas mengapa bahasa Sunda berangsur-angsur sirna seiring dengan
moderenisasi zaman? Mari kita telusuri
apa menyebabkan hal tersebut terjadi, dengan mengacu pada buku yang ditulis Pak
Haidar yang berjudul “Pokoknya Sunda”.
Pada buku Pak haidar ini, dipaparkan secara kritis
faktor-faktor yang menyebabkan sirnanya bahasa Sunda akibat kemunculan
moderenisasi zaman. Berikut ini adalah
isinya, kurang lebih seperti ini argumen-argumen beliau:
“Menggagas Renaisans
Budaya Sunda”
Sejalan dengan terus berkembangnya evolusi budaya,
dimulai dengan budaya lisan, budaya tulisan, dan budaya elektronik. Ketiga sistem budaya tersebut tidak
berpengaruh pada perkembangan bahasa Sunda di Indonesia. Kemunculan web-site www.sunda.net.com sebagai
salah satu penggunaan efek budaya elektronik ini pun sama sekali tidak
membuahkan hasil yang diharapkan, padahal tujuan dari dikeluarkannya web-site
tersebut diharapkan agar dapat menumbuhkan rasa memiliki bahasa Sunda pada
pembacanya, khususnya bagi orang Indonesia tentunya.
“Jurus Renainsans Ki
Sunda”
Setelah kemunculan “Menggagas renaisans budaya Sunda” ini
tidak membuahkan hasil yang signifikan pada peradaban perkembangan bahasa
Sunda, kemudian hadir upaya berikutnya demi tercapainya tujuan yang
diinginkan. Upaya tersebut berupa “Jurus
Renaisans Ki Sunda”. Dengan hadirnya
upaya tersebut diharapkan apa yang menjadi tujuan akan segera terwujud.
Terkait dengan pembicaraan di atas, hadir lah sebuah
pertanyaan pada upaya kali ini. Pertanyaan tersebut adalah: Apakah cukup hanya
sampai dokumentasi? Apakah dokumentasi
seperti karya besar Ensiklopedia Sunda identik dengan bangkitnya budaya
Sunda? Saya sependapat dengan Pak
Haidar, bahwa upaya berupa pendokumentasian saja belum cukup untuk kita agar
dapat melestarikan bahasa Sunda.
Selanjutnya Pak Haidar memaparkan upayanya agar bahasa
Sunda tak kalah populernya dengan bahasa Indonesia. Isi dari inti upaya beliau tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Kita mesti bercermin pada negara-negara maju
di dunia, karena mereka telah dapat melewati fase budaya lisan, budaya tulisan,
dan budaya elektronik. Mereka dapat
melewati semua fase tersebut dan alhasil bahasa mereka pun takkan pernah sirna,
meskipun telah hadir moderenisasi zaman.
2. Kita mesti bercermin pada bahasa Inggris,
bahasa itu mendunia bukan karena bahasanya itu sendiri, melainkan karena
kualitas penutur aslinya yang sangat literate (baca-tulis), unggul teknologi,
dan toleran.
Saya sependapat dengan Pak Haidar, bahwa kita mesti
mencontoh negara-negara maju. Saya percaya bila kita fokus mencontoh apa yang
telah dilakukan oleh negara maju, pasti tak lama kemudian kita pun akan mampu
melestarikan bahasa Sunda. kita mesti
menyadari bahwa segala usaha kita dalam memajukan segala aspek apapun sangat
tertinggal jauh dari negara-negara maju.
Kita pun tak perlu larut berkecil hati terlalu lama. Kesempatan untuk memperbaiki itu selalu ada,
yang terpenting ialah, kita mesti banyak belajar dari kesalahan, dengan tidak
lagi mengulangi kesalahan yang sama.
Salah satu dari upaya selanjutnya agar dapat memajukan
bahasa Sunda menurut saya ialah kita
mesti membebaskan anak bangsa untuk berkarya dalam hal apapun. Biarkanlah kreativitas-kreativitas mereka
mengalir secara alami tanpa kita batasi.
Selagi mereka masih dalam usaha memajukan bangsa dengan karya-karya
mereka. Tentu saja itu sama sekali
bukanlah suatu masalah apabila kita membebaskan mereka dalam berkarya. Seperti kita ketahui pada zaman sekarang
ini, negara tercinta kita ini kurang dapat menghargai karya-karya anak
bangsa. Tak sepatutnya kita berlaku
seperti itu, meskinya negara ini mesti menghargai sekecil apapun karya anak
bangsa, karena merekalah aset berharga kita di kemudian hari. Di tangan merekalah bergantung nasib negara
Indonesia pada zaman selanjutnya. Saya
kira cukup membahas hal tersebut, selanjutnya mari kita kembali lagi pada pokok
bahasan kita.
“Kita harus segera
meningkatkan vitalitas bahasa Sunda, khususnya bahasa tulis, bukan hanya
sekedar dalam genre sastra, agama, kebudayaan, dan obrolan sehari-hari,
melainkan juga dalam wacana akademik.
Sanggupkah kita menulis buku filsafat, politik, dan teknologi dalam
bahasa Sunda?”
Saya sependapat dengan beliau, bahwa pada intinya bahasa
ialah must be practice all the times and make it as your habitual. Kemudian kita pun mesti bersatu agar dapat
melestarikan bahasa Sunda.
Dalam wacana ini selanjutnya Pak Haidar membahas tentang
bagaimana bahasa Sunda dapat berkembang, sementara para pakar dan spesialis
dalam forum resmi beralih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing. Sebenarnya apa yang menyebabkan mereka
seperti itu. Bagaimana bahasa Sunda
dapat berkembang, sementara para pakar bahasa Sunda saja tak mampu menggunakan
bahasa Sunda dalam kegiatan apapun.
Miris sekali saya ketika membaca wacana bagian ini. Setelah itu Pak Haidar memaparkan dua
kemungkinan mengapa mereka beralih menggunakan bahasa lain dalam forum resmi:
1. Mereka tidak mampu berkomunikasi secara
professional dalam bahasa Sunda
2. Bahasa Sunda tidak memiliki kekayaan
kosakata yang memadai untuk menggambarkan konsep-konsep keilmuan.
Kita mesti berbenah, dan introspeksi secara
menyeluruh. Kata Pak Haidar, kelemahan
ini bukanlah suatu kelemahan yang inheren pada bahasa Sunda, melainkan lebih
banyak merupakan kelemahan penuturnya akibat hilangnya pemberdayaan bahasa
sunda dan sikap keliru terhadap bahasa.
Tampaknya ada kekeliruan langkah para pendahulu kita dalam politik
bahasa daerah. Kita pun tak perlu
menyalahkan siapa-siapa, karena menurut saya semuanya memang salah, dari mulai
para pakarnya, masyaraktnya, dll. Mereka tak pernah serius dalam setiap
upayanya agar bahasa Sunda dapat sepopuler bahasa Indonesia.
Nasi sudah menjadi bubur.
Menyesali sebagaimanapun tak ada gunanya, yang perlu kita pikirkan
selanjutnya ialah bagaimana memperbaiki kesalahan yang lalu-lalu. Kemudian
dalam menyikapi kelemahan-kelemahan yang terdapat pada “Jurus Renaisans
Ki Sunda”, Pak Haidar mengeluarkan jurus selanjutnya, yaitu:
“Sekali Lagi, Renaisans
Budaya Sunda”
Dalam wacana ini pada intinya kita mesti sekali lagi
mengadakan renaisans budaya Sunda, agar kita tidak lagi gagal dalam memajukan
bahasa Sunda seperti jurus sebelumnya. Berikut ini adalah isi dari wacana Pak
Haidar kali ini yang kemudian saya rangkum:
1. Dalam menghindari konflik orang Sunda
cenderung mengalah sekalipun di kandang sendiri? Bukankah mayoritas anggota DPRD Jabar adalah
non-Sunda? Ini merupakan suatu bukti
nyata bahwa masyarakatnya sendiri pun acuh terhadap bahasa Sunda, sehingga
wajar saja bila mereka para birokrat kurang hirau dalam memperjuangkan
agenda-agenda kebudayaan. Belum lagi
soal eksplorasi kekayaan alam.
2. Banyak orang menunjukkan antipati terhadap
pelajaran bahasa Sunda karena aspek guru, bukan aspek bahasa. Saya sependapat pada kalimat tersebut. Dapat kita lihat dalam contoh realnya bahwa
gurunya saja belum begitu mahir menggunakan bahasa ini, lantas bagaimana orang
awam yang mengikuti pelajaran di sekolah ketika mereka mendapati guru yang
seperti itu. Belum lagi kota Bandung pun
tak pernah serius dalam melestarikan bahasanya.
Begini contohnya. Adakahah PT di Bandung yang membuka jurusan bahasa
Sunda? Saya rasa jumlahnya pun masih
dapat dihitung jari. Kita mesti
menyadari bahwa bagaimana bahasa ini dapat berkembang, sementara guru dan para
birokratnya saja tak mahir menggunakan bahasa ini.
3. Selanjutnya perlu diingat pula bahwa sedikit
sekali persentase orang Sunda yang bermukim di kota-kota, kabupaten, atau
provinsi tempat terjadinya kontak bahasa. Menanggapi hal tersebut bahwa
bagaimana bahasa Sunda dapat kita promosikan ke seluruh Indonesia, sementara
sedikit sekali orang Sunda yang bermukim di tempat terjadinya kontak bahasa.
4. Ciri manusia berperadaban tinggi adalah
hidupnya wacana tulis, mengapa demikian?
Begini kronologisnya:
Allah SWT mengutus Malaikat Jibril untuk menyampaikan
wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad berupa wahyu yang pertama, yaitu Iqra,
Bacalah! Kemudian setelah Nabi Muhammad
menerima wahyu yang berangsur-angsur disampaikan oleh Allah SWT padanya,
setelah itu Nabi Muhammad menulis secara bertahap wahyu-wahyu tersebut, dan selanjutnya
membukukannya, sehingga wahyu-wahyu tersebut berwujud menjadi sebuah kitab suci
yang keabadiannya dijamin sampai dengan akhir zaman. Inilah bukti penghormatan Allah dalam
mengabadikan Al-Quran serta Agama Islam sampai akhir zaman.
“Membangun
budaya adalah membangun pendidikan. Dan ruh pendidikan adalah baca tulis”
Islam menyampaikan dakwahnya dengan cara baca-tulis dari
zaman ke zaman. Dengan metode tersebut Islam mampu menjamin keabadinnya sampai
akhir zaman. Orang-orang eropa pun
banyak yang meniru metode ini. Kita pun
mesti meniru metode tersebut, kita tidak boleh kalah dengan bangsa eropa. Perlu diingat sekali lagi, bahwa Allah SWT
mengajarkan moderenisasi, pengetahuan, dll memang lewat tulisan.
5. Kita jangan mencontoh sifat tokoh Sunda,
seperti Si Kabayan dan Si Cepot. Seperti
kita ketahui sebelumnya bahwa sifat mereka identik dengan, tidak serius,
santai, dan mengundang tawa. Ketiga
sifat tersebut adalah sifat yang tidak patut dicontoh.
6. Kelumpuhan bahasa Sunda terjadi karena
kesalahan para pendahulu republik ini yang meminggirkan bahasa daerah, sastra,
dan budaya pada umumnya.
Kesimpulannya, jangan menyalahkan siapa pun atas apa yang
sudah terjadi saat ini. Kita mesti
bersatu demi mewujudkan tujuan kita bersama, yaitu melestarikan bahasa Sunda
seperti halnya Agama Islam dapat tetap ada hingga zaman moderenisasi saat ini.
Dalam meningkatkan vitalitas bahasa Sunda bukanlah suatu hal yang mudah. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk
sosialisasi dan realisasi gagasan ini.
Kita mesti banyak mengacu pada tulisan Pak haidar ini. Kita tidak boleh mengulangi kesalahan kita
untuk kedua kalinya. Semoga dengan jurus
terakhir Pak Haidar ini yang berjudul “Sekali Lagi, Renaisans Budaya Sunda”
dapat banyak berpengaruh dalam melestarikan bahasa Sunda, sehingga bahasa yang
kita cintai bersama ini takkan pernah sirna dimakan moderenisasi zaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar