Baca Tulis Masyarakat
Madani
Masyarakat madani ialah tipe masyarakat yang didambakan
oleh seluruh dunia saya rasa, terutama bagi yang yang menganut Agama Islam. Bagaimana tidak,
masyarakat madani pernah menjadi bagian dari sejarah Rasulullah Saw ketika
beliau memimpin negara Islam pertama di Madinah. Masyarakat madani sangat
menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu,
dan teknologi yang berperadaban. Berperadaban disini maksudnya ialah proses
belajar secara kolektif dan sepanjang sejarah sehingga masyarakat yang
berpendidikan yang indikatornya mencakup kemampuan membaca dan menulis. Dua
kegiatan ini adalah media transformasi dari tahap ke tahap peradaban manusia.
Lewat kaji ulang secara seksama ihwal tulis-menulis kita dapat mengungkap
kesejarahan peradaban manusia.
Sungguh luar biasa definisi dari masyarakat madani
mungkin karena itu Rasulullah menggunakan tipe masyarakat madani pada masa itu.
Para pengamat tokoh politik pun sangat mendambakan tipe masyarakat madani ini,
saya pun demikian sependapat. Merujuk pada pengertiannya, saya rasa jika ke
semua komponen itu digabungkan dan diterapkan niscaya akan tercipta kehidupan
yang damai dan makmur. Manusia tidak hanya pintar, namun mempunyai akhlak yang
baik sehingga kita dapat mempunyai intelegensi yang lengkap dengan menggunakan
tipe masyarakat madani sebagai contoh yang akan kita gunakan dalam keseharian
kehidupan kita.
Masyarakat Wacana
Madani
Literasi madani adalah kemampuan masyarakat untuk membaca
agar mampu memberikan keputusan sosial yang bertanggung jawab dan kemampuan
menulis secara kritis sehingga tercipta masayarakat madani yang merupakan ajang
partisipasi warga negara sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Dalam konteks
masyarakat madani, literasi mesti teraktualisasikan dalam membaca madani dan
menulis madani.
Menulis partisipatoris merupakan bagian dari aktualisasi
literasi madani. Menurut saya menulis madani ini sangat membawa banyak dampak
positif. Saya sependapat dengan penulis, bahwa pada literasi bagian menulis ini
sangat dianggap enteng oleh kebanyakan masyarakat, padahal pembiasaan kegiatan
ini merupakan upaya demokratisasi dan bukti wujud nyata paling penting dalam
literasi madani.
MKU BI Turun Mesin
“Prihatin”. Itulah kata yang
pertama kali saya lontarkan dalam benak saya begitu membaca artikel bagian ini.
Saya pun sependapat dengan argumen-argumen yang dipaparkan penulis dan di sini
saya pun mempunyai beberapa argumen yang ingin saya paparkan juga.
Sesuai dengan judul wacana ini,
“Mengapa MKU BI Turun Mesin”. MKU BI di PT kita kurang begitu bermartabat,
padahal MKU Bahasa inggris dalam PT di Amerika begitu bergengsi. “Mengapa
demikian?”, sebelum memaparkan pemikiran-pemikiran saya, terlebih dulu saya
ingin meminta maaf kepada semua jajaran pengajar dan instansi di Indonesia
apabila ada pemikiran saya yang menyinggung perasaaan kalian. Saya hanya ingin
sekedar melontarkan beberapa pemikirin saya agar semua MKU yang disampaikan
para pengajar dapat diserap oleh seluruh mahasiswa sehingga dapat tercipta mahasiswa
yang memiliki intelegensi yang tinggi dan bermanfaat untuk bangsa.
Memang sudah menjadi suatu hukum
yang wajib bagi seluruh mahasiswa harus memiliki keterampilan Literasi
Epsimetik (Dapat mentransformasikan pengetahuan dalam bahasa). Untuk mewujudkan
itu kami pun membutuhkan pengajar yang dapat mengajari kami akan hal itu.
Pengajar yang bukan hanya pandai unjuk kemampuan teoritis, tetapi pengajar yang
mampu mentransformasikan ilmunya pada kami. Semua pengajar cerdas dan ilmunya
tinggi itu pasti, tetapi yang menjadi
permasalahnya ialah apakah beliau memiliki kemampuan bahasa yang baik
untuk mentransformasikan ilmunya pada kami. Saya rasa itu belum tentu.
Mari kita pahami apa
sebenarnya tugas pengajar. Pengajar bukan hanya bermodal memiliki otak yang
cerdas, tetapi pengajar juga harus mampu memiliki kemampuan bahasa yang mudah
dipahami oleh mahasiswanya agar pengajar dapat mentransformasikan ilmunya pada
kami para mahasiswa. “Bagaimana caranya?”, ya itulah tugas pengajar. Pengajar
harus mampu menciptakan metode learning yang mudah dipahami oleh seluruh
mahasiswanya.
Argumen di atas itu terinspirasi
dari ucapan salah satu dosen di kampus saya. Beliau berkata bahwa, “Sebenarnya
siswa itu tidak ada yang bodoh, tetapi gurunya yang bodoh”. Setelah mendengar
argumen tersebut, muncul beberapa pemikiran dalam benak saya dan kemudian saya
pun sependapat dengannya. Saya berharap semoga semua pengajar dapat
mentransformasikan ilmunya secara jelas.
Setelah itu saya juga ingin berargumen
kembali. Argumen ini terbesit ketika saya membaca wacana masyarakat madani pada
bagian ini. “Bagaimana pengajar dapat mengajar dengan baik, sementara
mahasiswanya jumlahnya 100 orang, dosen-dosennya juga pasti kehabisan tenaga”,
ya betul sekali, mari untuk semua instasi PT kita harus instrospeksi diri.
Bagaimana kegiatan belajar dapat berjalan kondisif kalau satu kelas saja
siswanya berjumlah 40 orang. Saya yakin pendekatan seluruh mahasiswa ke dosen
pun sulit terjalin. Maka dari itu, diharapkan untuk semua instasi PT agar mampu
menciptakan fasilitas dan sistem yang mampu menunjang kegiatan belajar kami
agar kami para mahasiswa dan dosen dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar
dengan nyaman. Selain itu para mahasiswanya juga jangan hanya bisa menuntut
fasilitas kepada instansi, tetapi kalian juga mesti menjaga segala fasilitas
yang sudah diberikan oleh instansi. Alangkah indahnya jika semuanya mampu
menyadari kewajibannya masing-masing. Lambat laun bangsa ini akan mampu
memiliki intelegsi yang tinggi dan tidak kalah seperti bangsa lain.
Saya optimis kita tidak akan kalah
seperti bangsa-bangsa lain yang mampu menciptakan negara maju jika kita selalu mengoreksi diri dan selalu
berusaha mencari solusi yang terbaik. Faktor utama dalam terciptanya hal
tersebut ialah seorang pengajar. Mengapa demikian, karena pengajar mempunya
tugas mendidik bangsa. Generasi muda ialah penerus bangsa ini. Akan jadi apa
bangsa kita di masa depan tergantung pada generasi muda, tetapi tidak usah
khawatir, jika pengajar mampu menanamkan lima tahapan Literasi yang diungkapkan
oleh wells. Saya tidak lama lagi Indonesia akan mampu bersaing dengan Negara
maju lainnya.
Semangat untuk para pengajar.
Khususnya saya yang sebentar lagi jadi pengajar. Mari kita budayakan masyarakat
madani agar tercipta seluruh masyarakat
yang memiliki Intelegensi (IQ, EQ, SQ) yang lengkap. Tugas kita sebagai guru
amatlah berat, “Mendidik Bangsa”, jadi buang kata malas jauh-jauh, karena
segala tingkah laku kita nantinya akan ditiru anak-anak didik kita dan yang
paling penting kita harus mampu menjadi teladan yang baik dan memliki metode
mengajar yang interest. Keep study hard for all the prospective educators, so
that we can be a good teachers for all the students in the future. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar