Minggu, 24 Februari 2013

TEXT RESPONSES SATU

Baca Tulis Masyarakat Madani    

            Masyarakat madani ialah tipe masyarakat yang didambakan oleh seluruh dunia saya rasa, terutama bagi yang  yang menganut Agama Islam. Bagaimana tidak, masyarakat madani pernah menjadi bagian dari sejarah Rasulullah Saw ketika beliau memimpin negara Islam pertama di Madinah. Masyarakat madani sangat menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yang berperadaban. Berperadaban disini maksudnya ialah proses belajar secara kolektif dan sepanjang sejarah sehingga masyarakat yang berpendidikan yang indikatornya mencakup kemampuan membaca dan menulis. Dua kegiatan ini adalah media transformasi dari tahap ke tahap peradaban manusia. Lewat kaji ulang secara seksama ihwal tulis-menulis kita dapat mengungkap kesejarahan peradaban manusia.

            Sungguh luar biasa definisi dari masyarakat madani mungkin karena itu Rasulullah menggunakan tipe masyarakat madani pada masa itu. Para pengamat tokoh politik pun sangat mendambakan tipe masyarakat madani ini, saya pun demikian sependapat. Merujuk pada pengertiannya, saya rasa jika ke semua komponen itu digabungkan dan diterapkan niscaya akan tercipta kehidupan yang damai dan makmur. Manusia tidak hanya pintar, namun mempunyai akhlak yang baik sehingga kita dapat mempunyai intelegensi yang lengkap dengan menggunakan tipe masyarakat madani sebagai contoh yang akan kita gunakan dalam keseharian kehidupan kita.

Masyarakat Wacana Madani

            Literasi madani adalah kemampuan masyarakat untuk membaca agar mampu memberikan keputusan sosial yang bertanggung jawab dan kemampuan menulis secara kritis sehingga tercipta masayarakat madani yang merupakan ajang partisipasi warga negara sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Dalam konteks masyarakat madani, literasi mesti teraktualisasikan dalam membaca madani dan menulis madani.

            Menulis partisipatoris merupakan bagian dari aktualisasi literasi madani. Menurut saya menulis madani ini sangat membawa banyak dampak positif. Saya sependapat dengan penulis, bahwa pada literasi bagian menulis ini sangat dianggap enteng oleh kebanyakan masyarakat, padahal pembiasaan kegiatan ini merupakan upaya demokratisasi dan bukti wujud nyata paling penting dalam literasi madani.

MKU BI Turun Mesin

            “Prihatin”. Itulah kata yang pertama kali saya lontarkan dalam benak saya begitu membaca artikel bagian ini. Saya pun sependapat dengan argumen-argumen yang dipaparkan penulis dan di sini saya pun mempunyai beberapa argumen yang ingin saya paparkan juga.

            Sesuai dengan judul wacana ini, “Mengapa MKU BI Turun Mesin”. MKU BI di PT kita kurang begitu bermartabat, padahal MKU Bahasa inggris dalam PT di Amerika begitu bergengsi. “Mengapa demikian?”, sebelum memaparkan pemikiran-pemikiran saya, terlebih dulu saya ingin meminta maaf kepada semua jajaran pengajar dan instansi di Indonesia apabila ada pemikiran saya yang menyinggung perasaaan kalian. Saya hanya ingin sekedar melontarkan beberapa pemikirin saya agar semua MKU yang disampaikan para pengajar dapat diserap oleh seluruh mahasiswa sehingga dapat tercipta mahasiswa yang memiliki intelegensi yang tinggi dan bermanfaat untuk bangsa.

            Memang sudah menjadi suatu hukum yang wajib bagi seluruh mahasiswa harus memiliki keterampilan Literasi Epsimetik (Dapat mentransformasikan pengetahuan dalam bahasa). Untuk mewujudkan itu kami pun membutuhkan pengajar yang dapat mengajari kami akan hal itu. Pengajar yang bukan hanya pandai unjuk kemampuan teoritis, tetapi pengajar yang mampu mentransformasikan ilmunya pada kami. Semua pengajar cerdas dan ilmunya tinggi itu pasti, tetapi yang menjadi  permasalahnya ialah apakah beliau memiliki kemampuan bahasa yang baik untuk mentransformasikan ilmunya pada kami. Saya rasa itu belum tentu.

Mari kita pahami apa sebenarnya tugas pengajar. Pengajar bukan hanya bermodal memiliki otak yang cerdas, tetapi pengajar juga harus mampu memiliki kemampuan bahasa yang mudah dipahami oleh mahasiswanya agar pengajar dapat mentransformasikan ilmunya pada kami para mahasiswa. “Bagaimana caranya?”, ya itulah tugas pengajar. Pengajar harus mampu menciptakan metode learning yang mudah dipahami oleh seluruh mahasiswanya.

            Argumen di atas itu terinspirasi dari ucapan salah satu dosen di kampus saya. Beliau berkata bahwa, “Sebenarnya siswa itu tidak ada yang bodoh, tetapi gurunya yang bodoh”. Setelah mendengar argumen tersebut, muncul beberapa pemikiran dalam benak saya dan kemudian saya pun sependapat dengannya. Saya berharap semoga semua pengajar dapat mentransformasikan ilmunya secara jelas.

            Setelah itu saya juga ingin berargumen kembali. Argumen ini terbesit ketika saya membaca wacana masyarakat madani pada bagian ini. “Bagaimana pengajar dapat mengajar dengan baik, sementara mahasiswanya jumlahnya 100 orang, dosen-dosennya juga pasti kehabisan tenaga”, ya betul sekali, mari untuk semua instasi PT kita harus instrospeksi diri. Bagaimana kegiatan belajar dapat berjalan kondisif kalau satu kelas saja siswanya berjumlah 40 orang. Saya yakin pendekatan seluruh mahasiswa ke dosen pun sulit terjalin. Maka dari itu, diharapkan untuk semua instasi PT agar mampu menciptakan fasilitas dan sistem yang mampu menunjang kegiatan belajar kami agar kami para mahasiswa dan dosen dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan nyaman. Selain itu para mahasiswanya juga jangan hanya bisa menuntut fasilitas kepada instansi, tetapi kalian juga mesti menjaga segala fasilitas yang sudah diberikan oleh instansi. Alangkah indahnya jika semuanya mampu menyadari kewajibannya masing-masing. Lambat laun bangsa ini akan mampu memiliki intelegsi yang tinggi dan tidak kalah seperti bangsa lain.

            Saya optimis kita tidak akan kalah seperti bangsa-bangsa lain yang mampu menciptakan negara maju  jika kita selalu mengoreksi diri dan selalu berusaha mencari solusi yang terbaik. Faktor utama dalam terciptanya hal tersebut ialah seorang pengajar. Mengapa demikian, karena pengajar mempunya tugas mendidik bangsa. Generasi muda ialah penerus bangsa ini. Akan jadi apa bangsa kita di masa depan tergantung pada generasi muda, tetapi tidak usah khawatir, jika pengajar mampu menanamkan lima tahapan Literasi yang diungkapkan oleh wells. Saya tidak lama lagi Indonesia akan mampu bersaing dengan Negara maju lainnya.

            Semangat untuk para pengajar. Khususnya saya yang sebentar lagi jadi pengajar. Mari kita budayakan masyarakat madani  agar tercipta seluruh masyarakat yang memiliki Intelegensi (IQ, EQ, SQ) yang lengkap. Tugas kita sebagai guru amatlah berat, “Mendidik Bangsa”, jadi buang kata malas jauh-jauh, karena segala tingkah laku kita nantinya akan ditiru anak-anak didik kita dan yang paling penting kita harus mampu menjadi teladan yang baik dan memliki metode mengajar yang interest. Keep study hard for all the prospective educators, so that we can be a good teachers for all the students in the future. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar