Kamis, 11 April 2013

Peranan Pendidikan Pada Abad ke-21



Pertanyaan yang selalu membelit saya setiap harinya ini akhirnya dapat terjawab. Pertanyaan yang  telah lama hadir dalam memori ingatan jangka panjang saya ini akhirnya dapat terpecahkan melalui sebuah buku yang berjudul Accelerated Learning For The 21st Century, karya Malcolm J. Nicholl. Pertanyaan saya yang hadir sejak dulu adalah apakah peranan pendidikan sangat berpengaruh bagi sektor perekonomian negara kita? Merujuk pada fakta yang ada bahwa gelar sarjana pun tak cukup mampu untuk dijadikan sebagai mata pencaharian berskala panjang. Pada kenyataannya di negara kita ini cukup banyak jumlah sarjana yang berujung pada pengangguran. Lantas apakah peranan pendidikan dapat berpengaruh cukup signifikan dalam perbaikan nasib kehidupan bangsa pada abad ke-21 ini?

Saya temukan semua jawaban itu dalam buku ini. Dalam buku ini dijelaskan secara rinci mengapa peran pendidikan terasa begitu penting bagi suatu bangsa.

Pada tanggal 14 Mei 1997, seorang Ratu Inggris berpidato di depan parlemen. Pidato tersebut berisi:
“Prioritas Utama pemerintah sekarang adalah pendidikan. Pemerintah berusaha keras meningkatkan standar pendidikan di Sekolah dan Perguruan Tinggi, serta berupaya menggalakkan program belajar terus menerus di tempat kerja.

            Selanjutnya ada lagi pidato yang dibawakan oleh pemerintah partai buruh di bawah pimpinan Perdana Menteri Tony Blair, beliau berpidato dikarenakan beliau sedang mengkampanyekan program politiknya. Beliau mengatakan bahwa tiga prioritas utama pemerintah Inggris saat ini adalah “Pendidikan, Pendidikan, Pendidikan”.

            Perdana Menteri Tony Blair yakin bahwa komitmennya itu akan membuat bangsa Inggris bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain untuk meghadapi tantangan abad ke-21 ini. Kebijakan itu juga sesuai dengan deklarasi pemerintahan Bill Clinton di Amerika Serikat yang juga memfokuskan program politiknya pada sistem pendidikan.

            Komitmen berupa pentingnya pendidikan itu dapat menghantarkan Perdana Menteri Tony Blair dalam memenangi pemilu di Inggris. Semua rakyat inggris pun begitu antusias dalam program belajar sepanjang hayat ini, sebab belajar harus dimulai sedini mungkin dan tidak akan berhenti sampai manusia meninggal dunia.

            Kemudian kita dapat melihat contoh-contoh real-nya bahwa mengapa peranan pendidikan ini terkesan begitu penting.

Para pakar sependapat bahwa pekerjaan yang paling bernilai di masa depan adalah para pekerja otak yang memiliki bakat yang besar dan terlatih. Apakah benar begitu?

Contohnya:

Pekerjaan yang berulang dan mekanis akan diambil alih oleh mesin-mesin yang dikendalikan komputer, atau diekspor ke negara-negara berpenduduk padat dimana penduduknya dipersiapkan untuk bekerja dengan upah rendah dan dimana pemerintahannya menawarkan insentif-insentif besar bagi dunia bisnis. Itu hanyalah contoh kecil untuk menunjukkan bahwa sedikit sekali lapangan pekerjaan yang tersedia bagi orang yang berpendidikan rendah.

Sekalipun anda mempunyai suatu “Pekerjaan otak”, pendidikan tetap harus menjadi perhatian dan kepedulian utama anda. Jika seluruh standar pendidikan bangsa kita tidak mengalami peningkatan pesat, anda akan dikenai pajak lebih tinggi, output perekonomian nasional yang rendah, dan biaya kekacauan social yang tinggi.

Capaian pendidikan yang rendah, keterampilan analitis dan keterampilan pengambilan keputusan yang parah akan mengantarkan kita kepada ketergantungan ekonomi. Anda akan mengalami pajak yang lebih tinggi di masa mendatang karena sebuah bangsa yang sebagian besar penduduknya tidak dapat berfungsi dalam sebuah dunia yang berteknologi tinggi akan berarti kerugian besar akibat angka pengangguran tinggi, biaya kesejahteraan yang tinggi, dan ongkos pengendalian kejahatan yang tinggi, sebab ada korelasi besar antara pendidikan dan kesehatan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa orang yang berpendidikan tinggi pada umumnya sehat dan berumur lebih panjang.

Lihatlah sisi positif. Kekayaan bangsa kita adalah hasil dari kualitas otak penduduknya, kreativitas, dan keterampilan.  Dengan kata lain, aset terbaik kita adalah kemampuan kolektif kita untuk belajar cepat dan beradaptasi secara cerdas terhadap situasi yang tidak dapat diramalkan.

Pada masa yang berubah sangat cepat seperti sekarang ini, keterampilan super seperti yang tersebut di atas yang mampu membuat kita tidak akan menganggur pada abad ke-21 ini. Selanjutnya setelah menelaah contoh wacana sebelumnya, anda perlu bertanya kepada diri anda sendiri, akan menjadi apakah anda di masa depan nanti? Apakah anda sudah siap menghadapi masa depan yang terus berkembang seperti sekarang ini? Apakah anda dapat bertahan hidup di era abad ke-21 ini?

Kuncinya hanya satu. Menurut Daniel Burns, penulis Techno Trends 24 Technologies That Will Revolutionize Our Lives, menekankan bahwa “Masa depan adalah milik mereka yang mampu untuk terus berlatih dan belajar”

Belajar bukan hanya mengetahui jawaban-jawaban. Juga bukan hanya mengetahui serpihan dan penggalan dari suatu batang tubuh pengetahuan. Belajar tidak hanya diukur dengan indeks prestasi dan nilai ujian semata. Belajar bukan hanya aktivitas menuliskan di atas papan tulis apa yang diketahui orang lain.

Belajar adalah petualangan seumur hidup, perjalanan eksplorasi tanpa akhir untuk menciptakan pemahaman personal kita sendiri. Petualangan itu haruslah melibatkan kemampuan untuk terus-menerus menganalisis dan meningkatkan cara anda belajar. Belajar harus dimulai jauh sebelum hari pertama masuk sekolah seorang anak dan terus berlangsung seumur hidupnya. Kita tidak boleh berhenti belajar dan mengimplementasikan apa yang telah kita pelajari.

Merujuk pada kesimpulan dari segala pertanyaan saya yang telah dibantu oleh buku yang berjudul Accelerated Learning For The 21st Century ini adalah yang terpenting bukan membangun perangkat kerasnya, melainkan yang terpenting adalah meningkatkan kualitas otak SDM-nya. Tentunya kualitas SDM akan dapat terus meningkat jika dibarengi dengan investasi pendidikan yang terus dilakukan sepanjang hayat. Kesimpulan terakhir saya sependapat dengan Bill Gates, pendiri perusahaan Microsoft, dalam bukunya The Road Ahead, mengatakan bahwa, “Dalam dunia yang berubah, pendidikan adalah modal utama bagi seseorang agar bisa beradaptasi”.

Senin, 01 April 2013

The Wolf Prince and The Ugly Princess

NARRATIVE TEXT
Created By: Ria Nuralawiyah

I felt, I was the most miserable person in the castle. I had separated from you. Did you know? You were the girl who the most I loved. I was still hope that, one day I will meet you, although it might not happen, because now I had changed into a wolf. At this moment, I lived away from the castle. I lived in the forest. The location of that forest is so far from where I lived. I felt sad when every time I remembered the incident a year ago.

At that moment I dared to go to the castle, but unfortunately everybody in there, did not recognize me. They threw me with the stones, and then they evicted me. Now my body that likes this, surely no one could not recognize me. The only one people who I expected to can recognize me were her. Her name was the girl riding hood. Everybody called her with that name, because she always wore a red riding cloak whenever she went out. She was the girl who the most I loved. Where was she? Why in the castle, I could not find her?

All this happened induced by my stepmother. She seized my royal throne with the sneaky ways. He killed all of the people who I loved. My mother, my father, my grandmother, they disappeared without the traces. Then she had bewitched me into a wolf. And then it also might, the loss of the girl red riding hood caused by her. She was the cruelest person in the castle.

In this forest was a place that made me comfortable. In here I met with many new friends, although they were not human. They were animal. They had liked my family. I felt this forest had liked my castle. There are, the plenty of fruit to eat, the beautiful trees, the river that flows very clear, the comfortable cave for me to sleep. The cool breeze blowing, it can make me fast to sleep. Moreover when the sun rises and sets, the flock of birds always flies, it passed on the air, and then it made wonderful formation and a melodious sound. The views of this forest, I thought, it's the most amazing views that I had ever seen.

Someday when I had finished helping a herd of rabbits to make their home, after that I immediately went back to my cave home. After I had arrived at my cave home, I slept. When I was sleeping deeply, suddenly I heard a human voice crying. After that I immediately woke up to find the source sound. I shocked that there is a human dare came to this forest. She was a woman. She wore a red riding cloak and her face looked so scary.

I met her and then I asked her.

“Who were you? Why were you here? And why were you crying?” said the wolf
“Introduce me, my name was riding hood. I came here because of all the people who I cared had not recognized me anymore. My face had changed so scary like this, because the queen had bewitched me”

After heard it, I became so shocked. She was a human, she could respond my questions, although my body was still wolf shape. When I was being silent because, I was thinking about her. She realized me with touched my head.

“Why were you being silent? What were you same like the people who lived in the castle? They were so scary, when they saw me. So that they did not want to meet me”
“Absolutely, it was not. I wonder why you could respond my voice. You were a human and I was a wolf. We were different. Who were you? What did the causes your face to be like this?”
“When I was a child until now, I had advantage. The advantage was I can talk with animal. And the cause that had made my face looked like this is a queen who lived at the castle. She bewitched me be ugly. So that everybody had not recognized me anymore. After that I was feeling sad, and then I decided to go to this forest”

The wolf shocked, he was still wondering. Is it true like his expected? That the ugly girl, who in front of him now, she is the girl riding hood who he loved. The wolf could conclude it because what did she tell, looked a lot like with all the characters and advantage that had by my the girl riding hood. Her name was same, her cloak was also same. After The wolf was thinking for so long, and then he asked for her.

“Was before your face ugly like this, you were a princess?”
“Yes, it was true. Where did you know?”
The wolf did not answer that question, and he asked again to her.
“What was it true, your name is the girl riding hood?”
“Yes, it was true, Why did you keep gave me many questions?”

              And then the wolf explained it

“Did you know? I was a prince who lived in the castle, but for now I had not lived in there anymore, because the queen had bewitched me became a wolf”
“Really, what did you said? What was it true?”
“Of course, it was true”

After heard it, the girl riding hood was crying, and she said on him

“Eventually, I could find you. I was so happy”
“So do I, I was very missing you. Forgive me, for all the misfortunes that happened on you at this moment. It induced by my stepmother”
“It was not your mistakes, but it was the queen's mistakes”

After that, the prince and the princess were chatting. They were so happy, because had been for so long, they could not meet. While from the long distance and then getting closer, suddenly, appeared a fairy forest in front of them.

“I will give you reward on all your patience and all your services that had kept this forest. I will help you to delete the curse of the Queen”
“The fairy, thank you so much, what would I do to reply your goodness?”
“Just simply ways, you just need to go back to your castle, married with the princess, and Led the castle. The princess will be a queen, and you will be a king. So the sneaky queen could abdicated”
“Well I will do it. Once again thank you very much the fairy”

            And then, the prince and princess were back to the castle. Everybody who lived in the castle had recognized them. The prince's stepmother abdicated. The prince got married with the princess, and then they led the castle. Finally they lived happily ever after.

Senin, 18 Maret 2013

My Foreign World



My respones in an article with the title is "Barbara can't write"

            This is my first assignment in my second semester to write with using English language. I don’t know, I must be happy or not, because at this time I was feeling my skill about English still low. But I’m not going give up. I had chosen this department, so I must be responsible of this. I don’t want to make my family to be disappointed with what I had chosen. Okay keep spirit you can do it. I hope my essay can make you inspired. The last I say, Happy Reading.

            Last year when I was graduated from my senior high school, and then I continued my studies at Cirebon with department English education. Do you know? When I was child until now, I’m very hate English language lesson, because for me, it’s the most difficult lesson. Why I had chosen it, because I had no other choice. I had chosen it because I didn't accepted at the university that I want. When I was getting a failure, my old sisters asked me to continue my studies at Cirebon with department English education. They said to me that with majoring English education, you will get many job opportunities very much. After I heard about it, and then I chose it. I followed my advice’s old sisters.

            When I was in first course, l felt agonize. For me this is a foreign world. I must meet with English language every day, every times. Oh no, this is like a most nightmare that I ever got. Sometimes I often feel give up. Every day I never absent pray to my God so that he gives me many easiness. God ever made a promise to his servant that:

(QS. Al Insyirah 5-6)

“Verily, after every difficulty there is relief”

            That verse is always make me strong. I always try to never give up. Alhamdulillah, I was getting many the easiness. Someday my lecturer gave me a task. He asked me to read an article and then I must make a review and make a comparison with my life. The article made me so inspired. That article title is “Barbara Can’t Write”. The article tells about Barbara’s experience that can’t write. She is a perfectionist woman, she can’t write since her age is fifteen until seventeen years old. She is very good only at grammar lesson and spelling. She always feels panic, when she gets a task to make an essay. She never gives up. She always studies hard, although she has no idea what to write and how to write.

            Someday her teacher gives her a task to make an essay, but Barbara can’t do it. She is overwhelmed by the pressure to get it right. She feels so be pathetic when she got the task. The situations also ever happen to me. When my lecturer asked me to speak, listen, read, and write (all English skill), I feel very afraid and so agonize. I think Barbara is still better than me. She is still has ability in grammar lesson and spelling, while I can’t all the parts of English language lesson. I begin study all the parts of English language with seriously, when I course with department English education.

            I think what happen to Barbara is still better than me. She still has a mother and teachers who always help her, when she was getting problems in this lesson. While, I don’t like her, I think my life is very not easy. For examples are, at my university, I often feel difficulty when I was getting some problems in my task. I don’t know where I have to go to as soon as possible get easiness in my task. I think in library I will get some easiness, but not always like that. When I was reading, and then sometimes can’t understand what the book mean is? After that, where I have to go? All my old sisters are not expert in English language lesson. They are only expert in engineer lesson, and my mother also same with their. So, where I have to go?

            I’m same with Barbara, every day the fear is always imprison my words, so that I can’t improve my skill English easily. But don’t worry I include a perfectionist woman, when I do anything I must get the best result. Every day, I always try to seek some solutions to help my problem. The solutions are sometimes I meet with my seniors to ask about my problem, I buy some book, I open Google translate and dictionary, and the last I always follow all advices of my lecturers well. Yeah, it’s my ways that always I do to find the best solutions in English language lesson.

            I really admire Barbara. She can fight against something that she doesn’t like. She never gives up although she gets failure. She never bored to seek ways that will help her. She always tries to be the best in all aspects. So at the end, she successfully gets all her wishes. She can be a professional writer. It’s so amazing experience. I think she is one of my inspirations so that I will get all my dreams. Barbara’s experience made me realized that I was also able as successful as her, because in this world is nothing impossible If we are serious to make it happen.

            Yeah, I will be like her, although I feel so tired to fight against all my thinking fear in this lesson. This lesson will never make me be a fail person in life. May be for this time, this lesson is still like my foreign world. But I believe this condition will not run long. I will always study hard so that I can change my foreign world become my passion world. With the only capital are support from my family, all easiness from my God, and my hard effort. I do believe I will get my passion world.

Mr. Albert Einstein also ever said that:

 "Success consists of 1% talent and 99% hard work"

        So keep be fighting Ria Nuralawiyah to get your passion world. Your passion world is to be a professional educator in English language lesson. Keep dreaming and reaching. Your passion world was waiting you to as soon as possible you get it right.


My conclusion is like Mr.Lala ever said that:

"Craftsmanship - Inspired - Process"

Senin, 04 Maret 2013

TEXT RESPONSES DUA


           
3rd Assignment

From: Mr L

            Pada tugas kali ini, Mr L meminta saya untuk merespon dua teks sekaligus.  Teks yang pertama berjudul “Menggagas Renaisans Budaya Sunda” dan selanjutnya teks yang kedua berjudul “Sekali Lagi Renaisans Budaya Sunda”.   Berhubung kedua teks tersebut isi teksnya saling berkaitan erat, maka dari itu, dalam teks respon saya kali ini, saya ingin menjadikan kedua teks tersebut dalam satu judul.  Berikut ini adalah teks respon saya mengenai kedua teks tersebut.

BAHASA SUNDA SIRNA DIMAKAN MODERENISASI ZAMAN

            Selepas saya membaca kedua teks tulisan Pak Haidar itu, secara keseluruhan saya sependapat dengan beliau.  Saya kira, saya tak menemukan sedikit pun kekurangan pada teks Pak Haidar kali ini.  Selanjutnya mari kita respon tulisan Pak Haidar yang luar biasa menarik ini.

            Mengacu pada judul teks respon yang telah saya tulis, lalu mengapakah bahasa Sunda berangsur-angsur sirna dimakan moderenisasi zaman?  Seperti kita ketahui sebelumnya bahwa bahasa Sunda pada sejarah peradaban perkembangan budaya di Indonesia lebih dulu ada sebelum bahasa Indonesia.  Lantas mengapa bahasa Sunda berangsur-angsur sirna seiring dengan moderenisasi zaman?  Mari kita telusuri apa menyebabkan hal tersebut terjadi, dengan mengacu pada buku yang ditulis Pak Haidar yang berjudul “Pokoknya Sunda”.

            Pada buku Pak haidar ini, dipaparkan secara kritis faktor-faktor yang menyebabkan sirnanya bahasa Sunda akibat kemunculan moderenisasi zaman.  Berikut ini adalah isinya, kurang lebih seperti ini argumen-argumen beliau:

“Menggagas Renaisans Budaya Sunda”

            Sejalan dengan terus berkembangnya evolusi budaya, dimulai dengan budaya lisan, budaya tulisan, dan budaya elektronik.  Ketiga sistem budaya tersebut tidak berpengaruh pada perkembangan bahasa Sunda di Indonesia.  Kemunculan web-site www.sunda.net.com sebagai salah satu penggunaan efek budaya elektronik ini pun sama sekali tidak membuahkan hasil yang diharapkan, padahal tujuan dari dikeluarkannya web-site tersebut diharapkan agar dapat menumbuhkan rasa memiliki bahasa Sunda pada pembacanya, khususnya bagi orang Indonesia tentunya.

“Jurus Renainsans Ki Sunda”

            Setelah kemunculan “Menggagas renaisans budaya Sunda” ini tidak membuahkan hasil yang signifikan pada peradaban perkembangan bahasa Sunda, kemudian hadir upaya berikutnya demi tercapainya tujuan yang diinginkan.  Upaya tersebut berupa “Jurus Renaisans Ki Sunda”.  Dengan hadirnya upaya tersebut diharapkan apa yang menjadi tujuan akan segera terwujud.

            Terkait dengan pembicaraan di atas, hadir lah sebuah pertanyaan pada upaya kali ini. Pertanyaan tersebut adalah: Apakah cukup hanya sampai dokumentasi?  Apakah dokumentasi seperti karya besar Ensiklopedia Sunda identik dengan bangkitnya budaya Sunda?  Saya sependapat dengan Pak Haidar, bahwa upaya berupa pendokumentasian saja belum cukup untuk kita agar dapat melestarikan bahasa Sunda.

            Selanjutnya Pak Haidar memaparkan upayanya agar bahasa Sunda tak kalah populernya dengan bahasa Indonesia.  Isi dari inti upaya beliau tersebut adalah sebagai berikut:

1.   Kita mesti bercermin pada negara-negara maju di dunia, karena mereka telah dapat melewati fase budaya lisan, budaya tulisan, dan budaya elektronik.  Mereka dapat melewati semua fase tersebut dan alhasil bahasa mereka pun takkan pernah sirna, meskipun telah hadir moderenisasi zaman.

2.  Kita mesti bercermin pada bahasa Inggris, bahasa itu mendunia bukan karena bahasanya itu sendiri, melainkan karena kualitas penutur aslinya yang sangat literate (baca-tulis), unggul teknologi, dan toleran.

            Saya sependapat dengan Pak Haidar, bahwa kita mesti mencontoh negara-negara maju. Saya percaya bila kita fokus mencontoh apa yang telah dilakukan oleh negara maju, pasti tak lama kemudian kita pun akan mampu melestarikan bahasa Sunda.  kita mesti menyadari bahwa segala usaha kita dalam memajukan segala aspek apapun sangat tertinggal jauh dari negara-negara maju.  Kita pun tak perlu larut berkecil hati terlalu lama.  Kesempatan untuk memperbaiki itu selalu ada, yang terpenting ialah, kita mesti banyak belajar dari kesalahan, dengan tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.

            Salah satu dari upaya selanjutnya agar dapat memajukan bahasa Sunda menurut saya ialah  kita mesti membebaskan anak bangsa untuk berkarya dalam hal apapun.  Biarkanlah kreativitas-kreativitas mereka mengalir secara alami tanpa kita batasi.  Selagi mereka masih dalam usaha memajukan bangsa dengan karya-karya mereka.   Tentu saja itu sama sekali bukanlah suatu masalah apabila kita membebaskan mereka dalam berkarya.   Seperti kita ketahui pada zaman sekarang ini, negara tercinta kita ini kurang dapat menghargai karya-karya anak bangsa.  Tak sepatutnya kita berlaku seperti itu, meskinya negara ini mesti menghargai sekecil apapun karya anak bangsa, karena merekalah aset berharga kita di kemudian hari.  Di tangan merekalah bergantung nasib negara Indonesia pada zaman selanjutnya.  Saya kira cukup membahas hal tersebut, selanjutnya mari kita kembali lagi pada pokok bahasan kita.

“Kita harus segera meningkatkan vitalitas bahasa Sunda, khususnya bahasa tulis, bukan hanya sekedar dalam genre sastra, agama, kebudayaan, dan obrolan sehari-hari, melainkan juga dalam wacana akademik.  Sanggupkah kita menulis buku filsafat, politik, dan teknologi dalam bahasa Sunda?”

            Saya sependapat dengan beliau, bahwa pada intinya bahasa ialah must be practice all the times and make it as your habitual.  Kemudian kita pun mesti bersatu agar dapat melestarikan bahasa Sunda.

            Dalam wacana ini selanjutnya Pak Haidar membahas tentang bagaimana bahasa Sunda dapat berkembang, sementara para pakar dan spesialis dalam forum resmi beralih menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa asing.  Sebenarnya apa yang menyebabkan mereka seperti itu.  Bagaimana bahasa Sunda dapat berkembang, sementara para pakar bahasa Sunda saja tak mampu menggunakan bahasa Sunda dalam kegiatan apapun.  Miris sekali saya ketika membaca wacana bagian ini.  Setelah itu Pak Haidar memaparkan dua kemungkinan mengapa mereka beralih menggunakan bahasa lain dalam forum resmi:

1.    Mereka tidak mampu berkomunikasi secara professional dalam bahasa Sunda

2.   Bahasa Sunda tidak memiliki kekayaan kosakata yang memadai untuk menggambarkan konsep-konsep keilmuan.

            Kita mesti berbenah, dan introspeksi secara menyeluruh.  Kata Pak Haidar, kelemahan ini bukanlah suatu kelemahan yang inheren pada bahasa Sunda, melainkan lebih banyak merupakan kelemahan penuturnya akibat hilangnya pemberdayaan bahasa sunda dan sikap keliru terhadap bahasa.  Tampaknya ada kekeliruan langkah para pendahulu kita dalam politik bahasa daerah.  Kita pun tak perlu menyalahkan siapa-siapa, karena menurut saya semuanya memang salah, dari mulai para pakarnya, masyaraktnya, dll. Mereka tak pernah serius dalam setiap upayanya agar bahasa Sunda dapat sepopuler bahasa Indonesia.

            Nasi sudah menjadi bubur.  Menyesali sebagaimanapun tak ada gunanya, yang perlu kita pikirkan selanjutnya ialah bagaimana memperbaiki kesalahan yang lalu-lalu.  Kemudian  dalam menyikapi kelemahan-kelemahan yang terdapat pada “Jurus Renaisans Ki Sunda”, Pak Haidar mengeluarkan jurus selanjutnya, yaitu:

“Sekali Lagi, Renaisans Budaya Sunda”

            Dalam wacana ini pada intinya kita mesti sekali lagi mengadakan renaisans budaya Sunda, agar kita tidak lagi gagal dalam memajukan bahasa Sunda seperti jurus sebelumnya. Berikut ini adalah isi dari wacana Pak Haidar kali ini yang kemudian saya rangkum:

1.   Dalam menghindari konflik orang Sunda cenderung mengalah sekalipun di kandang sendiri?  Bukankah mayoritas anggota DPRD Jabar adalah non-Sunda?  Ini merupakan suatu bukti nyata bahwa masyarakatnya sendiri pun acuh terhadap bahasa Sunda, sehingga wajar saja bila mereka para birokrat kurang hirau dalam memperjuangkan agenda-agenda kebudayaan.  Belum lagi soal eksplorasi kekayaan alam.

2.   Banyak orang menunjukkan antipati terhadap pelajaran bahasa Sunda karena aspek guru, bukan aspek bahasa.  Saya sependapat pada kalimat tersebut.  Dapat kita lihat dalam contoh realnya bahwa gurunya saja belum begitu mahir menggunakan bahasa ini, lantas bagaimana orang awam yang mengikuti pelajaran di sekolah ketika mereka mendapati guru yang seperti itu.  Belum lagi kota Bandung pun tak pernah serius dalam melestarikan bahasanya.  Begini contohnya. Adakahah PT di Bandung yang membuka jurusan bahasa Sunda?  Saya rasa jumlahnya pun masih dapat dihitung jari.  Kita mesti menyadari bahwa bagaimana bahasa ini dapat berkembang, sementara guru dan para birokratnya saja tak mahir menggunakan bahasa ini.

3.   Selanjutnya perlu diingat pula bahwa sedikit sekali persentase orang Sunda yang bermukim di kota-kota, kabupaten, atau provinsi tempat terjadinya kontak bahasa. Menanggapi hal tersebut bahwa bagaimana bahasa Sunda dapat kita promosikan ke seluruh Indonesia, sementara sedikit sekali orang Sunda yang bermukim di tempat terjadinya kontak bahasa.

4.   Ciri manusia berperadaban tinggi adalah hidupnya wacana tulis, mengapa demikian?

            Begini kronologisnya:

            Allah SWT mengutus Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad berupa wahyu yang pertama, yaitu Iqra, Bacalah!  Kemudian setelah Nabi Muhammad menerima wahyu yang berangsur-angsur disampaikan oleh Allah SWT padanya, setelah itu Nabi Muhammad menulis secara bertahap  wahyu-wahyu tersebut, dan selanjutnya membukukannya, sehingga wahyu-wahyu tersebut berwujud menjadi sebuah kitab suci yang keabadiannya dijamin sampai dengan akhir zaman.  Inilah bukti penghormatan Allah dalam mengabadikan Al-Quran serta Agama Islam sampai akhir zaman.

“Membangun budaya adalah membangun pendidikan. Dan ruh pendidikan adalah baca tulis”

            Islam menyampaikan dakwahnya dengan cara baca-tulis dari zaman ke zaman. Dengan metode tersebut Islam mampu menjamin keabadinnya sampai akhir zaman.  Orang-orang eropa pun banyak yang meniru metode ini.  Kita pun mesti meniru metode tersebut, kita tidak boleh kalah dengan bangsa eropa.  Perlu diingat sekali lagi, bahwa Allah SWT mengajarkan moderenisasi, pengetahuan, dll memang lewat tulisan.

5.  Kita jangan mencontoh sifat tokoh Sunda, seperti Si Kabayan dan Si Cepot.  Seperti kita ketahui sebelumnya bahwa sifat mereka identik dengan, tidak serius, santai, dan mengundang tawa.  Ketiga sifat tersebut adalah sifat yang tidak patut dicontoh.

6.  Kelumpuhan bahasa Sunda terjadi karena kesalahan para pendahulu republik ini yang meminggirkan bahasa daerah, sastra, dan budaya pada umumnya.

            Kesimpulannya, jangan menyalahkan siapa pun atas apa yang sudah terjadi saat ini.  Kita mesti bersatu demi mewujudkan tujuan kita bersama, yaitu melestarikan bahasa Sunda seperti halnya Agama Islam dapat tetap ada hingga zaman moderenisasi saat ini. Dalam meningkatkan vitalitas bahasa Sunda bukanlah suatu hal yang mudah.  Diperlukan waktu yang cukup lama untuk sosialisasi dan realisasi gagasan ini.  Kita mesti banyak mengacu pada tulisan Pak haidar ini.  Kita tidak boleh mengulangi kesalahan kita untuk kedua kalinya.  Semoga dengan jurus terakhir Pak Haidar ini yang berjudul “Sekali Lagi, Renaisans Budaya Sunda” dapat banyak berpengaruh dalam melestarikan bahasa Sunda, sehingga bahasa yang kita cintai bersama ini takkan pernah sirna dimakan moderenisasi zaman.